Author: Mihael.
Casts: Jongin and You
Genre: Angst, Fluff(?)
Rating: PG-13
Length: ±2000 words
Summary: Aku seharusnya tidak mencintaimu lebih dari ini.
*******
Aku tidak ingat sejak kapan semua ini bermula, yang kuingat saat itu malam hari dan tanganku ada di dalam genggaman Jongin. Ditemani dua cup caramel macchiato hangat dan sekotak donat yang hampir habis, kami menghabiskan malam di sudut ruangan kafe Starbucks.
Aku rindu saat-saat seperti ini, saat dimana aku dan Jongin bisa menghabiskan waktu berdua seperti pasangan normal lainnya. Berbagi cerita, berbagi lelucon, dan tak jarang saling melontarkan kata-kata rayuan satu sama lain. Rasa-rasanya sudah lama sekali, dan aku berharap waktu-waktu seperti ini akan terulang untuk keesokan hari- dan seterusnya.
Kami berjalan keluar kearah parkiran saat kafe hampir tutup. Walaupun saat ini musim panas, namun dinginnya angin malam terkadang menggelitik tulang punggungku. Namun genggaman tangan Jongin seketika mengusir hawa dingin itu seketika. Aku harap ia tidak menyadari seberapa bersemu merahnya kedua pipiku.
Jongin berkendara motor dalam kecepatan normal, dan dalam perjalanan pulang dia masih saja berceloteh tentang pertandingan basketnya tadi siang.
Ya, Jongin memang salah satu pemain basket andalan sekolah kami. Walaupun dirinya bukan kapten tim, tetapi pencetak poin terbanyak berasal dari lemparan tangannya. Terkadang aku heran, tinggi badan Jongin masih kalah dari Tao, Chanyeol, Sehun, bahkan Kris. Namun dari semuanya nampaknya Jongin yang memiliki stamina dan gerakan yang paling lincah.
Aku jadi ingat sewaktu dia memintaku menjadi kekasihnya. Di gedung basket sekolah, dengan berpuluh-puluh bola basket yang disusun di lapangan membentuk kalimat ‘Would you be mine?’. Yang membuatku sedikit shock karena yang kutau Jongin bukan tipe lelaki cheesy. Aku tidak menyangka seorang Kim Jongin dapat melakukan itu, aku menyimpulkan kalau dia belajar semua itu dari Kris, atau Chanyeol, atau malah mengandalkan tab search di Google sambil mengetik keyword “cara menyatakan cinta dengan romantis.” Aku tidak tau mengapa aku bisa berpikiran seperti itu, hanya kupendam sendiri dalam pikiranku yang kadang membuatku ingin tertawa ketika mengingatnya. Dan banyak lagi memori-memori menguar di kepalaku saat itu.
“Kau mendengar ceritaku tidak?”
Lamunanku seketika buyar. Oke, aku terlalu lama larut dalam lamunan sehingga tidak memperhatikan perkataan Jongin.
“Ah, Iya maaf, aku tadi sedikit…. melamun.”
Jongin tak merespon perkataanku, keheningan menyelimuti kami selama beberapa detik kedepan. Namun tangan kirinya tiba-tiba bergerak menuntun kedua tanganku untuk melingkarkannya dengan sempurna di perutnya.
Oke, Jongin hanya memintaku untuk berpegangan lebih erat karena rupanya ia menambah kecepatan motornya. Tetapi tetap saja sentuhan tangannya di kulitku membuat dentuman keras tiba-tiba bekerja di jantungku.
Ini bukan pertama kalinya kulit kami bersinggungan, mungkin kulit Jongin bisa menimbulkan sensasi aneh tersendiri bagi diriku.
Walaupun terkadang hal itu terasa menyebalkan karena efeknya membuat pikiranku tak bisa fokus, namun aku menyukainya.
Jongin mematikan mesin ketika aku turun dari motor sport-nya. Aku mengerutkan kening karena tidak biasanya Jongin berhenti untuk mampir kerumahku.
Jongin melepas helm-nya, memamerkan wajahnya yang sesempurna manekin untuk di potret kedalam ingatanku. Bibirnya yang sempurna itu tersenyum kepadaku, dan suara bass-nya menggumamkan kata-kata yang membuat perutku seolah tersengat ribuan lebah.
“Saranghaeyo, jeongmal saranghaeyo.”
Kalimat itu sederhana. Semua orang bisa mengatakannya padaku. Seorang Kim Jongin juga berulang kali mengucapkan kalimat itu padaku. Namun sensasinya tetap sama. Setiap kalimat itu meluncur dari bibirnya dan menggema di telingaku, aku bisa merasakan kalau tubuhku diterbangkan keatas langit. Sensasi yang membuat jantungku berdebar tak karuan sekaligus membuat pipiku bersemu merah. Hanya seorang Kim Jongin yang dapat melakukannya.
Aku tak membalas ucapannya karena terlalu larut dalam pikiranku sendiri. Ini lah yang menyebabkan aku tidak bisa fokus, dan Jongin lagi-lagi tersenyum sembari mengacak-acak rambutku.
“Cie pipinya merah.”
Mau tak mau aku menunduk saking malunya dan tertawa seraya memukul bahunya menggunakan tas kecil yang aku pakai.
“Jangan menggodaku.”
Jongin tertawa geli. Tawa yang selalu berhasil menentramkan hatiku. Tawa yang membuatku larut kedalam perasaanku padanya.
“Aku tidak menggodamu. Pipimu kan benar-benar memerah.”
Aku menutupi wajah dengan kedua telapak tanganku.
“Aku mau masuk ke dalam. Mau tidur.”
Lagi-lagi Jongin terkekeh geli. Dia selalu saja merasa senang jika berhasil menggodaku.
“Iya. Tidur yang nyenyak ya.”
Aku mengangguk, dan dia pamit untuk pulang. Namun saat aku hendak membuka gerbang untuk masuk ke dalam rumah, Jongin memanggil namaku. Ternyata ia malah turun dari motor sport hitamnya.
“Ada apa?”
Jongin tidak menjawab pertanyaanku. Hanya menggaruk belakang kepalanya.
Saat aku hendak mengeluarkan pertanyaan, Jongin melangkah mendekatiku. Ia meraih dan mencium puncak kepalaku.
Lagi-lagi sensasi itu mengaduk-aduk perutku.
“Selamat malam, selamat tidur sayang.”
Dan dia tersenyum. Sangat manis.
Aku masih berdiri mematung ketika ia kembali menaiki motornya dan memasang helm. Jongin melambaikan tangan, dan disana kesadaranku mulai kembali. Aku balas melambaikan tangan padanya.
Jongin hilang beserta deru motornya ditikungan jalan. Dan selama itu aku masih berdiri membeku, memegang puncak kepala bekas ciuman Jongin. Dan tersenyum. Dadaku hangat.
Kim Jongin memang benar-benar…
***
Teman sebangkuku menjadi orang pertama yang aku ceritakan mengenai kejadian semalam. Responnya diluar perkiraanku karena ia tersenyum saking lebarnya, berkali-kali mengguncangkan tubuhku seolah tidak percaya.
Ya, aku pun masih sulit untuk memercayai kejadian semalam karena hal itu sama saja untuk pertama kalinya selama dua bulan terakhir Jongin berbuat semanis itu padaku.
Jongin memang bukan tipe orang yang cheesy yang setiap hari mengucapkan kata selamat pagi, selamat malam, atau kalimat lain yang semacam itu. Namun bukan berarti Jongin adalah tipe laki-laki yang cuek dan tidak peduli terhadap apa yang aku lakukan atau dengan hubungan kami. Jongin peduli, Jongin romantis, namun dengan caranya sendiri.
Jongin pernah menggenggam tanganku, mencium puncak kepalaku, mengatakan kalau dia mencintaiku, memberiku hadiah. Dia memberikanku kejutan saat ulang tahunku tiba, membawakanku makanan saat aku jatuh sakit, bahkan menyalin belasan halaman catatan untukku. Dia pernah melakukan semua hal yang bisa dibilang romantis oleh kebanyakan orang. Namun yang semalam itu berbeda, karena segala hal romantis yang dilakukan Jongin itu terjadi saat hubungan kami belum resmi menjadi sepasang kekasih. Yang semalam itu bisa dibilang pertama kalinya sejak kami resmi menjadi sepasang kekasih. Karena biasanya Jongin jarang- atau tidak pernah- melakukan hal yang menggambarkan kalau kita adalah sepasang kekasih semenjak jadian. Aneh bukan?
Tetapi aku tidak peduli. Selama Jongin kembali masih bisa membuat jantungku berdebar dua kali lebih cepat daripada biasanya, apa yang perlu dikhawatirkan? Lagipula yang semalam bisa dijadikan permulaan, pengganti rasa sendirian yang kualami dua bulan terakhir.
Segalanya masih berjalan normal seperti biasanya. Jongin yang setiap istirahat menghampiri kelasku dan setiap pulang sekolah mengantarkanku; menjadi rutinitas tambahanku.
Ah iya! Ditambah lagi Jongin yang setiap sabtu malam kerumahku dan mengajakku berkeliling kota hingga hampir larut malam.
“Kau tau kenapa bintang muncul pada malam hari?”
Saat itu sabtu malam yang kedua kali. Jongin dan aku sedang tidur telentang menghadap langit sambil mengamati bintang diatap gedung apartemenku.
“Memangnya kenapa?”
Aku balik bertanya padanya, namun pandanganku masih terarah keangkasa. Yang kulakukan memang nampak bodoh, namun aku masih serius menghitung seberapa banyak bintang diatas sana sebelum akhirnya Jongin mengajakku bicara dan aku harus mengulangnya dari awal.
Hening. Jongin tidak merespon pertanyaanku. Aku tidak peduli lagipula aku sedang sibuk menghitung bintang. Andai saja aku membawa kalkulator.
“Tiga ratus enam puluh satu. Tiga ratus…”
Belum selesai aku menghitung, Jongin memanggil namaku. Mau tak mau aku menoleh kearahnya, bermaksud mengutarakan pertanyaan.
Tapi lidahku kelu. Aku membeku.
Oke, aku sudah sering melakukan kontak mata dengan Jongin. Namun yang ini entah kenapa berbeda. Jantungku. Selalu seperti ini. Mataku terkunci kedalam kedua manik matanya.
Mata hazel kesukaanku.
Kami bertatap-tatapan selama beberapa detik. Lalu Jongin mendekat.
Dan aku dapat merasakan manisnya cokelat dibibirku. Aku rasa ini es krim cokelat yang dimakan Jongin dari lemari es di apartemenku.
Ini pertama kalinya. Dan rasanya aku tidak ingin berhenti. Namun suara kucing yang sedang bertengkar menghentikan kegiatan kami.
Aku tak berani menatap mata Jongin. Tanpa berkata apa-apa, aku bangkit dan setengah berlari menuju pintu tangga. Kudengar Jongin memanggil namaku, namun aku tidak menghiraukannya. Aku hanya… entahlah, yang jelas aku tidak ingin bertemu dengannya dalam beberapa hari kedepan.
Tiga hari. Dan berpuluh-puluh pesan singkat dari Jongin tak ada yang aku balas. Isinya sama, dia meminta maaf. Aku sebenarnya heran kenapa dia meminta maaf padaku, aku rasa dia tidak berbuat kesalahan.
Aku menceritakan hal ini pada teman sebangkuku. Dan kalian tau? Dia malah tertawa terbahak-bahak sambil mengataiku bodoh. Aku tau aku bodoh, tapi kan hal yang aku lakukan itu semata-mata karena aku tidak berani menampakkan wajah didepan Jongin karena kejadian……. argh! Mengingatnya saja membuat pipiku panas.
Sepulang sekolah kami bertemu. Aku menjelaskan semuanya. Awalnya Jongin hanya diam memerhatikan penjelasanku. Namun pada akhirnya, dia malah tertawa lebih terbahak-bahak dari teman sebangkuku. Menyebalkan!
Hal itu tidak berjalan lama, karena lagi-lagi hal yang aku takutkan terjadi.
Jongin menjauh.
Bukan menjauh yang tiba-tiba meninggalkanku, namun menjauh secara harafiah. Raganya mungkin ada disisiku setiap hari, namun aku merasakan kalau sesuatu yang ada didalam dirinya tak lagi untukku.
Jongin masih kekelasku setiap jam istirahat, masih mengantarkanku saat pulang sekolah. Namun rasanya berbeda. Tidak ada lagi perbuatannya yang membuat sensasi aneh bergerak di perutku, tak ada lagi ucapan yang membuat pipiku bersemu tak ada lagi candaannya, bualannya. Aku merasa Jongin melakukan hal-hal yang menjadi kebiasaan kami itu sebagai kewajiban baginya. Seperti supir yang mengantarkan majikannya kemana-mana. Bukan seperti seseorang yang tulus ikhlas berbuat sesuatu untuk seseorang yang disayanginya.
Lalu lama kelamaan, seiring berjalannya waktu, kali ini aku merasakan kehilangan Jongin yang sebenarnya.
Jongin mulai absen berada disekitarku. Kegiatan basketnya kali ini menyita waktunya sepenuhnya. Tak ada lagi Jongin yang memencet bel apartemenku di malam hari sekedar untuk memintaku menemaninya makan malam, atau Jongin yang memintaku datang pagi-pagi sekali ke sekolah untuk menyalin PR yang belum dikerjakannya. Jongin menjauh. Kekosongan menggerogoti dadaku.
Aku pikir segalanya akan kembali seperti semula. Awalnya aku kira Jongin hanya sekedar suntuk untuk sementara. Hingga sebulan berjalan dan dia benar-benar mengabaikanku. Jongin bertindak seolah-olah aku tidak ada.
Dia mengacuhkanku saat aku menghampirinya dikelasnya. Dia menghindar dan memintaku untuk menemuinya lain kali.
“Aku harus menemui Kris untuk membahas latihan basket sore nanti.”
Atau, “Besok saja. Aku janji. Aku sibuk.”
Atau, “Aku capek sekali baru pulang pukul 9. Lain kali saja oke?”
Dan yang paling parah, “Bisa tidak kau jangan menggangguku sebentar?”
Mataku memanas. Hatiku sakit. Lubang didadaku menganga. Lukanya tergores makin hari makin dalam.
Kemana perginya Jongin yang dulu?
Pertanyaan itu terus berputar didalam kepalaku seolah disana terpasang tombol rewind yang akan selalu mengulang tanpa diminta.
Entah malam keberapa kali ini, aku menangisi seorang Kim Jongin. Hatiku masih terasa ngilu ketika mataku menatap barang pemberiannya. Tangisku selalu ingin meledak ketika sosoknya tertangkap pandanganku. Aku menyayanginya, namun kenapa dia harus pergi dengan cara seperti ini?
Perpisahan adalah hal yang menyakitkan. Namun lebih menyakitkan lagi kalau dia pergi tanpa pamit.
Jongin pergi tanpa pamit.
Kali ini benar-benar pergi.
Lalu emosiku yang selama ini aku pendam meledak. Ketika pemandangan itu tertangkap mataku.
Kim Jongin. Bergandengan tangan. Dengan gadis lain.
Jadi ini alasannya?
Aku mengampirinya. Wajahnya terkejut akan kehadiranku.
“Kenapa kau tidak bilang kalau ini yang selama ini kau lakukan? Kenapa kau tidak meminta hubungan kita berakhir saja kalau itu memang yang kau mau? Kenapa menggunakan alasan-alasan lain jika kau memang sudah tidak ingin bersama denganku? Kenapa berbohong? Kenapa kau melakukan ini? Kau. Brengsek. Kim Jongin.”
Dan aku berlari menjauhi mereka. Wajahku basah. Aku bersembunyi di bilik toilet dan menangis sesenggukan disana hingga dadaku terasa sangat sakit. Hatiku ngilu. Lidahku kelu. Serpihan-serpihan dadaku berserakan dan aku tidak yakin aku sanggup menyatukannya kembali.
Malam-malamku selalu berhiaskan tangisan. Rutinitas baru bagiku. Kenapa dia harus membawaku terbang jika pada akhirnya dia menghempaskanku kembali ke daratan? Kenapa dia melakukan semua ini? Kenapa dia tega menyakitiku? Terlalu banyak kata kenapa yang memenuhi kepalaku. Aku mencintaimu Kim Jongin. Seharusnya kau tau hal itu.
Aku rasa aku memang harus melupakannya.
“Hubungan kita sampai disini saja.”
Itulah barisan kalimat yang aku kirimkan melalui pesan singkat kepadanya. Namun hal itu tidak bertahan lama.
Sabtu sore. Seseorang dibalik pintu apartemenku membuat gejolak didadaku membuncah. Luka itu tersayat lagi.
Kim Jongin berdiri disana.
“Apa maumu?”
“Dengarkan aku…”
“Aku minta kau pulang, Jongin. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Terima kasih sudah mau mengunjungku.”
Pintu kubanting dengan kencang. Aku menangis. Lagi-lagi hatiku ngilu. Kenapa dia kembali? Apa maunya? Tidak puaskah dia menyakitiku? Kurang apalagi? Kurang banyakkah serpihan hatiku yang dia hancurkan?
Saat itu hari Jumat. Pulang sekolah. Jongin mencegatku di koridor.
“Aku ingin pulang.”
“Tidak sebelum kau mendengarkan perkataanku.”
“Aku tidak butuh perkataanmu, Jongin. Aku ingin pulang.”
Jongin berjalan mendekat, aku menghindar. Namun ia kembali memotong langkahku.
“Minggir.”
“Tidak akan. Dengarkan aku.”
Minggir, Kim Jongin. Aku mohon. Aku sudah tidak kuat menahan airmata ini.
“Minggir, brengsek. Jangan ganggu aku lagi.”
Aku terlalu emosi saat mengatakannya. Dan aku yakin Jongin juga tersulut emosinya saat mendengar perkataanku.
Jongin menggeret lenganku, memaksaku mengikutinya kearah kelas.
“Lepaskan aku!”
“Dengarkan aku!”
“Lepaskan aku, Kim Jongin! Kau mau apa? Tidak cukup puaskah dirimu mencabik-cabik yang ada disini hah?!” Aku menekan dadaku keras, rasa sakit itu kembali menjalar. Airmata yang sedari tadi kutahan pecah sudah.
“Apa?! Aku hanya memintamu mendengarkanku! Apa susahnya?!”
“Apa susahnya?! Kau bilang tadi apa susahnya?! Bisakah kau jelaskan padaku bagaimana susahnya berbuat seolah segalanya baik-baik saja padahal kenyataannya tidak seperti itu? Bisakah kau menjelaskan bagaimana susahnya kau mencoba mempertahankan segalanya tetapi kau menyadari kau hanya bertahan sendirian?! Bisa jelaskan padaku bagaimana susahnya mencoba berjalan walaupun itu artinya kau harus terseok-seok?! Kau pernah merasakannya? Tidak kan?! Kalau begitu jangan pernah memintaku untuk bertindak seolah segalanya mudah Kim Jongin!”
Jongin menyudutkanku ke dinding. Tangannya terangkat. Yang kudengar hanyalah suara dinding yang terbentur dengan suatu benda disamping telingaku ketika aku memejamkan mata.
Tubuh Jongin dekat sekali denganku. Aku dapat mendengar deru nafasnya yang memburu, bahkan aku dapat merasakan detak jantungnya yang berpacu ketika dadanya menyentuh kedua tanganku yang terangkat didepan tubuhku.
“Aku menyayangimu.” Bisik Jongin.
“Tidak. Kau tidak menyayangiku. Tidak pernah, Kim Jongin. Cukup. Aku mohon.”
Tidakkah dia tau kalau perkataannya membuat lubang didadaku menganga makin lebar?
“Aku menyayangimu. Aku minta maaf. Aku mohon.”
Aku menggeleng. Tidak bisa. Aku juga menyayangimu Kim Jongin. Tetapi tidak seperti ini.
“Aku tau aku mengabaikanmu. Aku tau aku salah telah mengacuhkanmu. Aku tau aku brengsek dan tidak berperasaan. Aku tau aku telah menciptakan lubang didadamu, atau bahkan aku telah membuat sayatan yang dalam disana. Aku tau. Aku brengsek. Tetapi terlambatkah untuk orang yang brengsek sepertiku ini menyadari kalau pada kenyataannya hanya kau lah satu-satunya orang yang aku sayangi, aku cintai?”
“Katakan itu jika kau tidak bergandengan tangan dengan gadis lain.”
“Aku… Dengarkan aku.”
Jongin meraih wajahku dengan kedua telapak tangannya yang besar, memaksaku menatap matanya.
“Katakan kau tidak mencintaiku.” Ujarnya.
Aku menggeleng. Cukup. Aku mohon.
“Katakan kau tidak mencintaiku, dan aku bersumpah tidak akan mengusikmu lagi.”
Aku memejamkan mata. Airmata itu kembali menetes.
Dapat aku rasakan ada benda asing diantara kedua mataku. Bibir Jongin disana.
“Katakan kau tidak mencintaiku.” Ulangnya.
“Aku….”
Jongin mengecup puncak kepalaku. Turun ke kedua mataku. Lalu ke bibirku, dan berhenti disana.
“Katakan…”
“Aku tidak bisa mengatakan kalau aku tidak mencintamu Kim Jongin.”
Jongin tersenyum, mengecup bibirku. Entah berapa kali. Membisikkan kata maaf berulang kali disela-sela kecupannya.
Lalu Jongin memelukku, aku mendengar jantungnya disana.
“Aku tidak berjanji untuk mencintaimu selamanya. Namun aku berjanji padamu; I will listen, I will care. Selama aku bisa.”
“Dan haruskah aku percaya pada perkataanmu kali ini?”
“Kau tau kenapa disana ada banyak orang yang berharap pada kesempatan kedua? Karena mereka merasa bisa memperbaikinya.”
“Apa kau mau memperbaiki segalanya?”
“Ya.”
“Apakah aku harus percaya padamu? Bagaimana kalau kau tidak bisa memenuhi perkataanmu?”
“Kau. Hanya. Perlu. Percaya. Oke?” Ujar Jongin, memberikan penekanan disetiap kata.
Sepersekian detik kemudian, aku dapat merasakan cokelat dibibirku. Aku rasa Jongin sekarang suka makan es krim cokelat.
———-FIN———-
FF ini dedicated to Karilia! Sesuai request aku banyakin adegan kissingnya tuh!!! Aku gak ahli bikin tauk tp bodo amat:–(((((
Semoga suka ya!! Semoga makin suka sama Jongin dan gabisa move on-?- XOXO.
heung…. daebak ffnya!! gue bacanya mpe menghayati bgd(?)wkwkwk